Here, I am...
Taruh rindu sejenak,biar kamu lupa sesaat. Besok, boleh lah jatuh cinta lagi. Tapi hanya padaku...
Jumat, 24 Mei 2013
Yang Aku Takutkan Nanti
Dalam setiap kesempatan, aku membayangkan bagaimana rasanya hidup tanpamu.
Dan aku hanya mengenal kata takut sebagai jawaban.
Sulit untuk membayangkan jauhnya keberadaanmu.
Karena mungkin aku tak akan pernah sanggup.
Aku terlalu terbiasa dengan kehadiranmu.
Aku terlalu terbiasa dengan suara tawamu, aroma tubuhmu, dan sapamu saat bertemu.
Pernahkah kamu merasa terasing dengan ketiadaan seseorang?
Aku selalu mengalami, setiap kali aku berpikir kalau kamu akan pergi.
Dan yang aku takutkan kemudian.
Jika aku terjaga dan hanya menemukan sisa-sisa kenanganmu di sana.
Aku pernah pergi dari sisi seseorang, dan menemukan tangis sebagai usaha terakhir untuk membawaku kembali.
Aku hanya tak mau, kelak, aku akan jadi seseorang itu...
Senin, 29 April 2013
Janji
I owe the picture here
Meski hanya sedetik, ketika dicintai aku merasa telah melewatkan hidup yang panjang bersamamu.
Setidaknya, aku pernah jadi alasan untukmu tersenyum,
ketika aku menempati sedikit ruang dalam hati dan pikiran.
Atau ketika aku pernah jadi kata yang kau sebut sebagai rindu,
yang menepikan malam dalam waktu penuh penantian.
Sejauh apa kau ingat?
Sedalam apa kau mengerti?
Apakah cinta pernah jadi alasan hingga kau mengurai janji?
Kau benar, manusia memiliki keterbatasan.
Tapi kenapa kau juga membatasi perasaan?
Benarkah cinta perlu ditakar kadarnya?
Yang kuberi demikian banyak, mesti dibalas lebih sedikit.
Kau, entah di tahun keberapa cintamu jadi pasti.
Atau di waktu itu, mungkinkah kau masih saja berjanji?
Jangan bilang untuk tidak putus asa.
Karena sejak cinta menunggu,
aku tak tahu apa yang akan jadi jawabanmu...
Senin, 22 April 2013
Untuk Kamu: Pemenang Surat Balasan ROMA
surat balasan dari Noona Indri
Dear Robin,
Surat
yang kamu kirimkan bersama sebuah rasa, kini telah selesai ku baca. Aku merasa
bodoh ketika kamu mampu membuatku menjawab 'iya' pada semua pertanyaan yang
kamu tanyakan dulu di surat itu. Kenapa aku gampang sekali ditebak.Hah.
Pengingkaran akan cinta, aku juga pernah mengalaminya. Dulu. Dan aku (sedikit) menyesal mengapa akhir seperti itu yang akhirnya kami sepakati bersama. Menerima suratmu seperti memaksa ku untuk kembali mengingatnya, bukan untuk menyesalinya lagi, tapi untuk berterimakasih padanya atas semua rasa nyaman yang pernah ada. Ketika bersamanya, aku tidak perlu menjelma menjadi orang yang bukan aku. Ketika dengannya, aku mengerti bahwa yang ku butuhkan bukan orang yang sempurna, yang ku mau hanya orang yang tersenyum tulus dan tertawa lepas menghadapi keras kepala nya aku. Dan mungkin, kisah seperti itu juga yang akan ku temukan dalam Roma, yang kamu bilang sedang menantiku.
Mendengar kata Roma, entah mengapa yang terlintas pertama dalam benakku adalah Totti, hahaha. Pangeran nya Roma. Aku bukan penggemar As Roma tentunya, dan aku sungguh yakin, dalam kisahmu nanti, akan ada pangeran yang akan setia seperti Totti. Roma, aku belum mampu membayangkannya secara utuh. Mungkin kamu dapat membantuku untuk lebih mengenal nuansa romantismenya, dengan menyusuri Ponte di Rialto sembari menumpang gondola dan menikmati keemasan senja dari sana. Atau jika boleh aku berimajinasi sendiri, alangkah indahnya membuat janji di kapel Sistina. Dan ketika aku sedang menunggu sambil mengagumi fresco goresan Michelangelo yang berada di langit-langit kapel Sistina, seseorang menepuk pelan pundakku, dan aku menemukannya berdiri dengan memamerkan senyum terbaik yang dia punya, hanya untukku.
Lihat kan Bie, aku mulai menghayal tentang Roma dan segala romantisme yang ada disana, ini semua karena suratmu. Teringat sebuah pepatah lama, banyak jalan menuju Roma. Dan aku yakin, salah satu jalan yang dimaksud adalah dengan Roma yang kamu bilang sedang menantiku.
Aku akan berkemas.
Menemuimu, Roma.
Segera...
PS :
Bie..
Aku akan rajin mengamati kapan bendera di kotak pos biru itu akan berdiri, melihat ke dalam, lantas menemukan surat balasan yang akhirnya kamu kirimkan untukku dengan kisah indah Roma bersamanya.
Always,
Ur Mia cara...
-Indri-
Pengingkaran akan cinta, aku juga pernah mengalaminya. Dulu. Dan aku (sedikit) menyesal mengapa akhir seperti itu yang akhirnya kami sepakati bersama. Menerima suratmu seperti memaksa ku untuk kembali mengingatnya, bukan untuk menyesalinya lagi, tapi untuk berterimakasih padanya atas semua rasa nyaman yang pernah ada. Ketika bersamanya, aku tidak perlu menjelma menjadi orang yang bukan aku. Ketika dengannya, aku mengerti bahwa yang ku butuhkan bukan orang yang sempurna, yang ku mau hanya orang yang tersenyum tulus dan tertawa lepas menghadapi keras kepala nya aku. Dan mungkin, kisah seperti itu juga yang akan ku temukan dalam Roma, yang kamu bilang sedang menantiku.
Mendengar kata Roma, entah mengapa yang terlintas pertama dalam benakku adalah Totti, hahaha. Pangeran nya Roma. Aku bukan penggemar As Roma tentunya, dan aku sungguh yakin, dalam kisahmu nanti, akan ada pangeran yang akan setia seperti Totti. Roma, aku belum mampu membayangkannya secara utuh. Mungkin kamu dapat membantuku untuk lebih mengenal nuansa romantismenya, dengan menyusuri Ponte di Rialto sembari menumpang gondola dan menikmati keemasan senja dari sana. Atau jika boleh aku berimajinasi sendiri, alangkah indahnya membuat janji di kapel Sistina. Dan ketika aku sedang menunggu sambil mengagumi fresco goresan Michelangelo yang berada di langit-langit kapel Sistina, seseorang menepuk pelan pundakku, dan aku menemukannya berdiri dengan memamerkan senyum terbaik yang dia punya, hanya untukku.
Lihat kan Bie, aku mulai menghayal tentang Roma dan segala romantisme yang ada disana, ini semua karena suratmu. Teringat sebuah pepatah lama, banyak jalan menuju Roma. Dan aku yakin, salah satu jalan yang dimaksud adalah dengan Roma yang kamu bilang sedang menantiku.
Aku akan berkemas.
Menemuimu, Roma.
Segera...
PS :
Bie..
Aku akan rajin mengamati kapan bendera di kotak pos biru itu akan berdiri, melihat ke dalam, lantas menemukan surat balasan yang akhirnya kamu kirimkan untukku dengan kisah indah Roma bersamanya.
Always,
Ur Mia cara...
-Indri-
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
surat balasan dari Alit Alitsa
Hai Robin,
Aku
suka kopi pahit. Disitulah aku bicara rasa. Juga tentang cinta. Hitam, dengan
gula sedikit.
Cinta sejati dalam hidupku? Sejujurnya, aku tak pernah yakin. Bagaikan kopi, kubiarkan ia kuseruput tiap hari dengan kelegamannya, tahu itu pahit tapi masih berharap mengecap sedikit yang manis yang mungkin ada. Yang kuseruput mungkin kopi yang sama, tapi tak mungkin kopi kemarin lagi yang kutenggak. Siapa tahu kopi 10 tahun lalu lebih menyenangkan dari kopi hari ini? Siapa tahu kopi selanjutnya, kalau aku masih bernyawa, yang jadi juaranya? Biarkan saja. Biar kupetualangi kopiku ini. Biar jawaban itu menyeruak atau masih mau sembunyi, tak ada ruginya kuterus mencoba merasa. Toh, aku masih perlu mengopi, lagi dan lagi, masih ingin, dan perlu. Aku tak menggerutu, aku tak menyesal. Kopiku boleh hitam seperti sebuah kesalahan, tapi tetap memberi warna dalam rasanya. Jadi, ya, aku pernah merasa dan melewatinya. Kenapa tidak untuk mengulanginya?
Aku tak perlu Roma. Aku cuma butuh jendela atau kaca. Lewat jendela kucari bulan dan gemintang, atau kulahap awan yang berubah-ubah. Atau kumenatap matahari dengan berani, berlindung di balik jeruji, berharap aku tidak mati. Pada semuanya kubertanya, bagaimana kabar dia yang di sana. Dia yang pernah membuatku ingin tampil cantik dan sempurna, istimewa dan tiada cela. Dia yang tawanya sudah cukup lengkap. Atau dia yang membuatku merasa nyaman dan aman dengan genggaman tangannya saja. Dia yang pernah membuatku menangis karena rindu, dia juga yang kukenang manis setelah itu. Dia atau mereka, siapa saja, sama saja. Kapan, tak masalah. Lewat kaca kuajak diriku bicara. Sudah, belum atau akan masih ada, kenapa tidak?
Bisa saja aku ke Roma dan bercengkrama dengan tiang basilika atau fresco langit-langit kapel. Siapa yang bisa menduga? Aku akan tetap memilih percaya pada jendela. Aku belum jenuh. Aku tak mau dibatasi tiang atau langit-langit. Merebahkan tubuh di gondola boleh juga, biar kulayangkan jiwaku menyentuh cahaya senja yang berpendar keemasan itu. Pada akhirnya, aku tak perlu ada di Roma. Aku hanya butuh jendela. Dan menyeruput kopi hitam lagi. Tak masalah cinta berawal dan kembali ke tempat yang sama, atau berulang-ulang lagi dengan cerita yang berbeda. Asal dia punya rasa. Ada sedikit gula di kopi yang pahit, atau sebaliknya. Ada endapan yang tak mau kuingkari apalagi kutolak. Dengan kopi yang sama, bercangkir-cangkir, dengan seruputan yang berbeda, aku akan merasa tenang dan terlengkapi. Sejati itu berulang? Entah, kunikmati saja.
Aku masih di balik jendela. Mengenang saat aku di sisi luar jendela dan kembali ke sisi yang ini. Bukan tak mungkin aku di sana lagi. Berulang lagi. Satu kopi ke satu kopi.
Kopi, Robin?
Sejatinya,
Alit
Cinta sejati dalam hidupku? Sejujurnya, aku tak pernah yakin. Bagaikan kopi, kubiarkan ia kuseruput tiap hari dengan kelegamannya, tahu itu pahit tapi masih berharap mengecap sedikit yang manis yang mungkin ada. Yang kuseruput mungkin kopi yang sama, tapi tak mungkin kopi kemarin lagi yang kutenggak. Siapa tahu kopi 10 tahun lalu lebih menyenangkan dari kopi hari ini? Siapa tahu kopi selanjutnya, kalau aku masih bernyawa, yang jadi juaranya? Biarkan saja. Biar kupetualangi kopiku ini. Biar jawaban itu menyeruak atau masih mau sembunyi, tak ada ruginya kuterus mencoba merasa. Toh, aku masih perlu mengopi, lagi dan lagi, masih ingin, dan perlu. Aku tak menggerutu, aku tak menyesal. Kopiku boleh hitam seperti sebuah kesalahan, tapi tetap memberi warna dalam rasanya. Jadi, ya, aku pernah merasa dan melewatinya. Kenapa tidak untuk mengulanginya?
Aku tak perlu Roma. Aku cuma butuh jendela atau kaca. Lewat jendela kucari bulan dan gemintang, atau kulahap awan yang berubah-ubah. Atau kumenatap matahari dengan berani, berlindung di balik jeruji, berharap aku tidak mati. Pada semuanya kubertanya, bagaimana kabar dia yang di sana. Dia yang pernah membuatku ingin tampil cantik dan sempurna, istimewa dan tiada cela. Dia yang tawanya sudah cukup lengkap. Atau dia yang membuatku merasa nyaman dan aman dengan genggaman tangannya saja. Dia yang pernah membuatku menangis karena rindu, dia juga yang kukenang manis setelah itu. Dia atau mereka, siapa saja, sama saja. Kapan, tak masalah. Lewat kaca kuajak diriku bicara. Sudah, belum atau akan masih ada, kenapa tidak?
Bisa saja aku ke Roma dan bercengkrama dengan tiang basilika atau fresco langit-langit kapel. Siapa yang bisa menduga? Aku akan tetap memilih percaya pada jendela. Aku belum jenuh. Aku tak mau dibatasi tiang atau langit-langit. Merebahkan tubuh di gondola boleh juga, biar kulayangkan jiwaku menyentuh cahaya senja yang berpendar keemasan itu. Pada akhirnya, aku tak perlu ada di Roma. Aku hanya butuh jendela. Dan menyeruput kopi hitam lagi. Tak masalah cinta berawal dan kembali ke tempat yang sama, atau berulang-ulang lagi dengan cerita yang berbeda. Asal dia punya rasa. Ada sedikit gula di kopi yang pahit, atau sebaliknya. Ada endapan yang tak mau kuingkari apalagi kutolak. Dengan kopi yang sama, bercangkir-cangkir, dengan seruputan yang berbeda, aku akan merasa tenang dan terlengkapi. Sejati itu berulang? Entah, kunikmati saja.
Aku masih di balik jendela. Mengenang saat aku di sisi luar jendela dan kembali ke sisi yang ini. Bukan tak mungkin aku di sana lagi. Berulang lagi. Satu kopi ke satu kopi.
Kopi, Robin?
Sejatinya,
Alit
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Untuk Noona,
Untuk Alit,
Terima kasih telah mengirimkan surat balasan kembali. Dan terima kasih telah percaya, kalau pertemuanmu dengan cinta sejati mungkin terjadi ketika kamu membuka lembar demi lembar novel Roma.
Noona dan Alit, semoga apa yang menjadi harapan dan cita-cita kelak jadi sesuatu yang nyata. Sampai surat ini tertulis, semoga kalian tak lekas jenuh menunggu di muka pintu. Sebuah paket berisi senyum yang hangat akan tiba pada kalian. Dan semoga senyum yang sama juga terukir ketika kalian membukanya.
Roma akan jadi sebuah cerita bagi kalian. Dan untukku, surat balasan kalian telah jadi kesan yang istimewa.
Sampai bertemu pada satu kisah lainnya.
Robin Wijaya
Kamis, 11 April 2013
Percaya Dia Kembali
Ketika... jarimu menekan satu demi satu huruf yang mencipta kata.
Dituliskan di sana olehmu, cinta tak pernah 'kalem'.
Sederhana, mengundang senyum, lalu kita terlibat dalam percakapan dunia maya.
@robinBIEwijaya
jika cinta tak pernah 'kalem', biarkan dia santai saja. tak perlu bergegas memburu. cukup percaya dan menunggu.
@pikihh_
aku bukannya menunggu, hanya jenuh jika cintaku tak menyatu.
@robinBIEwijaya
mari berbagi waktu, mengusir jenuh. mungkin cinta perlu satu kali kesabaran lagi, dan satu kali lagi sampai ia datang suatu hari.
@pikihh_
lagi lagi aku harus menunggu lagi, ditemani sepi yang tak kunjung pergi, hanya untuk berharap kamu kembali.
@robinBIEwijaya
kamu tahu apa itu cinta? jika aku beri rindu padamu, suatu hari aku pulang untuk mengambilnya lagi.
@pikihh_
jadi kau datang hanya untuk menitip cinta dan singgah jika rindu sedang melanda?
@robinBIEwijaya
kedatanganku selalu berarti pulang. pada satu rumah, dimana aku tahu rindu selalu diterima, hatimu...
@pikihh_
karena hatiku bukanlah tempat persinggahan, yang kapan saja bisa kau tinggalkan saat kamu ingin melanjutkan perjalanan.
@robinBIEwijaya
Kalau pun aku pergi. Percayalah, lintasan bumi yang bulat membawaku ke satu titik. Tempatmu melepasku pergi, tempat aku kembali.
@pikihh_
lalu berilah aku alasan yang dapat membuatku tetap bertahan menunggumu di sini?
@robinBIEwijaya
Sesederhana kesediaanmu menunggu, cinta dan setia adalah alasan yang menuntunku pulang. Mau kah kamu percaya?
@pikihh_
bagaimana jika kamu tergoda oleh wanita diluar sana, bs sja kau lupa dgn janjimu sebelumnya lalu meninggalkanku begitu saja.
@robinBIEwijaya
Hatiku dibuat sebagai ruang. Rindu telah kujadikan anak kunci yang kutitipkan padamu sebelum pergi. Hanya kamu yang bisa membukanya lagi
@pikihh_
kamu sudah membuat aku banyak menanam harap. Aku hanya takut jika kamu tak pernah kembali untuk memetik harapku ini.
@robinBIEwijaya
Jika kamu lelah, aku akan berbalik arah. Beri aku sapa selamat datang. Ke pelukmu kubenamkan segala rindu.
@pikihh_
karena cinta tak pernah lelah menunggu. Kembalilah, mari kita bertukar rindu. Hatiku, hatimu. Satu...
@robinBIEwijaya
Buku telah ditutup. Pada satu kisah, kamu memenangkan cinta kembali pulang. Mari pejamkan mata, mengamini takdir dgn bahagia :)
Pertemuan kami di sebuah ruang maya.
Berbekal signal ponsel, jari, dan imajinasi tentang rindu dan harapan yang terus menanti.
Tanpa perencanaan...
Rabu, 10 April 2013
Aku Ingin Menjadi 'Hanya'
Ada satu kosa kata yg paling tepat untukmu.
Kunamai dirimu 'janji'.
Yang selalu mudah untuk diucapkan, tapi sangat sulit ditepati
Bisa jadi kamu tak mengerti, berapa besar arti dan waktu yang dihabiskan dengan sia-sia.
Cinta seringkali membuat kita salah melangkah.
Dan anehnya, itu terjadi untuk kedua dan ketiga kalinya.
Aku tak paham bagaimana caranya berlari.
Untuk sekadar memunggungimu, dan mengatakan 'ya, lebih baik kita begini'
Karena pada akhirnya, selalu aku yang kembali lagi.
Mungkin hatimu adalah penjara ternyaman.
Sembunyikan aku di situ.
Aku tak mau bebas lagi...
Tak perlulah lagi mencari pembenaran.
Di hadapanmu, kata-kata telah menjadi lumpuh.
Kalau kau bertanya alasan. Jawabanku, cukup cinta saja...
Cinta saja...
dan cinta saja...
Aku ingin menjadi 'hanya'.
Dicintaimu satu-satunya...
Langganan:
Entri (Atom)




